Breaking News

Mukimin Jawi dan Ulama Besar Indonesia di Makkah

Selain sebagai tempat ibadah dan belajar, Makkah dan Madinah juga menjadi tujuan berdagang sebagian warga Indonesia di masa lalu. Mereka bermukim dalam waktu yang lama. Bahkan ada yang menetap dan menjadi warga setempat. Kedatangan warga Indonesia ke dua kota suci ini sudah berlangsung sejak abad ke-16.

Dalam catatan Lodovivo de Varthema, pengembara Italia yang menyamar sebagai muslim agar dapat masuk Tanah Suci, kunjungan warga Asia Tenggara, termasuk Indonesia sudah terjadi sejak tahun 1502.

Kunjungan warga Indonesia ke Makkah dan Madinah meningkat pada abad ke-18 sejak adanya kapal api. Asal usul daerah mereka di Tanah Air dapat dilihat dari gelar di belakang namanya seperti as-Singkil (Singkil), al-Asi (Aceh), al-Minangkabawi (Minangkabau), al-Fadani (Padang), al-Mandili (Mandailing), al-Falimbani (Palembang), al-Bantani (Banten) hingga al-Maqassari (Makassar). Masyarakat Arab menyebut mereka sebagai Mukimin Jawi. Pada abad ke-19, jumlah warga asal Jawa di Tanah Suci jadi yang paling banyak.

Di antara Mukimin Jawi ini ada yang sukses sebagai ulama seperti imam Masjidil Haram Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Selain itu, masih ada ulama lain seperti Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani, Syeikh Muhammad Mukhtar Al-Bughri Al-Jawi, dan lain-lain. Mereka dan murid-muridnya menjadi tempat belajar para ulama Indonesia terdahulu yang kemudian kembali ke Tanah Air seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan.

Semoga kita bisa belajar dari ulama pendahulu kita. Jamaah #umroh bisa mengikuti jejak mereka dengan mengikuti pengajian rutin ba’da shalat Maghrib di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *